Daya Saing Produk dan SDM Dalam Negeri Untuk Upaya Peningkatan Produksi Minyak Indonesia Melalui Enhanced Oil Recovery

Daya Saing Produk dan SDM Dalam Negeri Untuk Upaya Peningkatan Produksi Minyak Indonesia Melalui Enhanced Oil Recovery

Oleh

Taufan Marhaendrajana

(Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Komisariat Daerah Bandung dan

Staff Pengajar di Program Studi Teknik Perminyakan ITB)

Penulis membaca dalam sebuah Harian (Kontan, 4 Juni 2013) bahwa Daqing akan ditunjuk oleh PT Pertamina dalam joint study untuk proyek pengurasan minyak tahap lanjut (Enhanced Oil Recovery atau EOR). Apabila demikian adanya, tersirat bahwa PT Pertamina tidak melihat adanya kemampuan di dalam negeri untuk melakukan pekerjaan EOR tersebut. Dalam konteks tersebut penulis ingin menampilkan sisi pandangan yang berbeda.

Ulasan Singkat EOR

EOR merupakan proses pengurasan minyak secara maksimal yang tidak dapat lagi diperoleh hanya dengan teknik-teknik yang konvensional. EOR dilakukan dengan menambahkan energi dan atau material eksternal ke dalam reservoir untuk mengubah sifat fisik dari minyak sehingga interaksinya dengan air dan batuan direkayasa agar minyak dapat mengalir. Apabila upaya ini tidak dilakukan, maka minyak yang ada di reservoir hanya akan terambil 30% sampai 50% saja dengan teknik konvensional dan waterflooding tergantung dari karakteristik batuan dan fluidanya (minyak dan air). Bahkan untuk minyak berat dan parafinik pengurasan oleh teknik konvensional jauh lebih kecil lagi.

Salah satu contoh EOR yang sudah berhasil dilakukan secara ekstensif di Indonesia adalah Steamflooding di lapangan Duri yang dioperasikan oleh Chevron (dulu adalah Caltex). Jenis minyak berat dan parafinik seperti Duri (specific gravity < 20 API) dan tempatnya yang Dangkal tidak ditemukan lagi duanya di Indonesia, yang memang sangat cocok untuk aplikasi Steamflooding. Untuk lapangan-lapangan pertamina dimana rata-rata specific gravity di antara 30 API – 45 API dan lapangan Indonesia lainnya, penulis menyampaikan dalam banyak kesempatan bahwa metode EOR CO2 flooding dan Chemical Surfactant yang feasible dari sisi teknis pengurasan minyak. Apabila di breakdown lagi, maka untuk lapangan-lapangan yang sudah berproduksi dan sudah mature (tua) CO2 flooding tidak cocok karena memerlukan upgrade peralatan permukaan agar tahan terhadap efek korosi yang akan ditimbulkan. Dengan demikian, fokus dapat diarahkan pada chemical surfactant sebagai kandidat, yang bisa dikombinasikan dengan chemical lainnya.

 Gambar_1Gambar 1. Ilustrasi terperangkapnya minyak di dalam batuan setelah sekian lama diproduksikan.

Gambar 1 memberikan ilustrasi bagaimana minyak tidak dapat lagi diambil setelah sekian lama produksi dalam skala mikro (pori batuan). Oleh karena adanya tegangan antara muka minyak dan air (IFT) yang cukup besar, minyak yang tadinya terjalin (tersambung) dari satu pori ke pori lainnya akan terpisah dan membentuk geometri yang membuat luas kontak minyak dan air yang paling kecil, yaitu bentuk bola. Pada kondisi ini aliran hanya terjadi pada fasa air saja dan minyak tidak lagi mengalir. Penambahan surfaktan yang sesuai akan membuat IFT menjadi kecil sehingga geometri minyak dalam pori akan menjadi seperti dalam Gambar 2. Pada kondisi ini minyak akan kembali mengalir bersama-sama dengan air sehingga dapat diproduksikan.

Gambar_2Gambar 2. Aliran setelah penambahan surfaktan.

Potensi Produk Dalam Negeri

Penulis bekerjasama dengan PT Pertamina EP berkesempatan untuk melakukan pengujian laboratorium terhadap produk surfaktan dari dalam negeri (dibuat dan diproduksi di dalam negeri) dan juga beberapa produk surfaktan dari luar negeri. Ada kurang lebih 50 jenis surfaktan yang penulis dan tim uji untuk melihat potensi chemical tersebut untuk menambah perolehan minyak (incremental oil recovery). Dua lapangan minyak PT Pertamina EP di Indonesia yang diambil contoh minyak dan air-nya untuk pengujian ini (kode lapangan KA dan TP). Setelah melewati beberapa tahapan pengujian, untuk lapangan KA diperoleh 3 surfaktan dalam negeri yang cocok dan untuk lapangan TP diperoleh 2 surfaktan dalam negeri dan 1 surfaktan luar negeri yang cocok. Surfaktan dalam negeri diberi label DN dan surfaktan dari luar negeri diberi label LN. Kemudian dari 3 surfaktan untuk setiap lapangan tersebut, diamati incremental oil recovery menggunakan coreflooding. Hasil coreflooding ini masih menggunakan core (batuan) buatan karena batuan (core) dari lapangan harus diambil lagi pada saat pengeboran sumur selanjutnya.

Hasil pengujian coreflooding menunjukkan bahwa surfaktan dapat menaikkan perolehan minyak sebesar 14%-45%. Surfaktan dalam negeri yang diuji untuk dua lapangan ini menunjukkan hasil yang lebih baik dari surfaktan dari luar negeri. Menarik untuk dicatat bahwa setiap lapangan memiliki kecocokan dengan surfaktan yang berbeda, meskipun dari pengujian ini jenis 9B cocok untuk ke dua lapangan tersebut. Hasil seleksi surfaktan ini juga memberikan indikasi bahwa satu jenis surfaktan tidak bisa bekerja dengan baik untuk semua lapangan minyak, sehingga setiap pekerjaan EOR dengan surfaktan perlu dimulai dengan tahapan pengujian untuk melihat kesesuaian (kecocokan) surfaktan dengan karakteristik fluida dan batuan lapangan tersebut, yang disebut Screening. Proses Screening ini membutuhkan waktu minimal enam bulan tergantung dari tersedianya bahan uji-nya dan kombinasi dengan chemical lain untuk meningkatkan kinerja-nya.Gambar_3

Gambar 3. Kenaikan perolehan minyak beberapa surfaktan di lapangan KA, hasil pengamatan coreflooding

Gambar_4

Gambar 4. Kenaikan perolehan minyak beberapa surfaktan di lapangan TP, hasil pengamatan coreflooding

Potensi SDM Dalam Negeri

Sejak masa Orde Lama sampai sekarang Indonesia sudah mengirimkan putra-putri nya untuk belajar ke luar negeri (khususnya Amerika dan Eropa) untuk menimba ilmu, yang dibiayai baik oleh negara ataupun pribadi. Investasi yang dilakukan negara tersebut akan menjadi sia-sia apabila SDM tersebut tidak dimanfaatkan untuk melakukan kiprah-nya. Kerugian akan bertambah kalau investasi pengembangan SDM tersebut dibiayai oleh hutang luar negeri.

Keberhasilan EOR surfaktan tidak hanya ditentukan oleh ditemukannya chemical yang cocok tetapi juga lebih ditentukan lagi oleh pengetahuan kita akan peta dan gambaran reservoir di bawah permukaan. Sehingga target dan eksekusi injeksi surfaktan tersebut tepat sasaran. Dalam konteks ini SDM dari perusahaan operator lapangan lebih memahami lapangannya sendiri, sehingga SDM inilah yang perlu diberdayagunakan di dalam pekerjaan EOR. Lembaga penelitian dan pendidikan perminyakan di Indonesia sudah lebih dari cukup banyak. Kiprah lembaga-lembaga ini dalam kerjasama dengan khususnya PT Pertamina dapat dianggap berhasil dalam memperlambat laju penurunan produksi. Beberapa pekerjaan injeksi air di lapangan Rantau dan Tempino misalnya dapat menaikkan produksi minyak di lapangan tersebut berdasar kajian bersama PT Pertamina dan lembaga-lembaga tersebut. Apakah SDM ini mampu untuk melakukan pekerjaan EOR? Tentunya mampu.

Kontribusi Teknologi dan SDM Luar Negeri

Perlu disadari juga bahwa untuk kesuksesan pekerjaan EOR, kita perlu belajar dari kegagalan dan kesuksesan masa lalu. Indonesia masih baru memulai pekerjaan EOR surfaktan ini sehingga harus diakui memiliki pengalaman yang sedikit. Dengan pemetaan kekuatan dan kelemahan sendiri, kita harus lebih cerdik dalam menggunakan jasa dari luar, apabila ingin berhasil dalam pekerjaan EOR ini dan juga peningkatan kapabilitas dalam negeri menuju kemandirian yang lebih baik di masa depan.

Institusi dari luar cenderung akan menggunakan produk-nya sendiri, padahal dari pengujian penulis produk dalam negeri pun dapat bekerja dengan baik. Belum lagi produk-produk dari luar tersebut tetap harus melewati pengujian untuk mendapatkan karakter chemical yang tepat, dan belum tentu produk dalam negeri tidak lebih baik. Bergerak dari dasar pikir ini, penulis berpendapat bahwa jasa dari luar negeri dapat dilibatkan sebagai advisor (penasehat) sehingga dapat dimanfaatkan pengalamannya, sedangkan SDM dan produk dalam negeri sebagai inti utama penggerak kegiatan EOR ini. Jangan dibalik, SDM dalam negeri sebagai advisor sehingga tidak tepat.

Apabila produk dan SDM dalam negeri digunakan dan diberdayakan dengan optimal dan didukung dengan komitmen yang penuh, penulis yakin pekerjaan EOR dapat berhasil dan kapabilitas bangsa ini akan meningkat. Rencana penunjukan Daqing tersebut perlu dipertimbangkan lagi secara cermat agar keputusan tersebut tidak hanya membesarkan institusi dari luar negeri dan melakukan pembiaran atas kemampuan sumber daya di dalam negeri sendiri sehingga tidak berkembang.